DESA KARANGSAMBUNG
Desa Karangsambung merupakan desa
tertua di antara tujuh desa di wilayah Kec. Kadipaten. Beberapa desa
seperti Desa Liangjulang, Kadipaten (Jatiraga), Babakan Anyar dan Desa
Pagandon dahulu berada di bawah pemerintahan Demang Karangsambung.
Nama
Karangsambung lebih bernilai historis bila dibanding dengan nama
Kadipaten, nilai historis Karangsambung terkait dengan pasukan Mataram
yang ngababak-babak hutan lalu menjadi cikal bakal desa ini.
Menurut
sumber sejarah, pasukan Mataram membuka lahan hutan menjadi pemukiman
akibat rasa takutnya terhadap raja Mataram, Sultan Agung. Raja Mataram
mengancam akan membunuh pasukannya jika perang dari Batavia tanpa
membawa kemenangan. *)
Pasukan Mataram pada saat itu berada pada
posisi yang delamatis. Di pihak lawan yang merupakan tentara-tentara
kompeni Belanda terus mengejar meraka dengan persenjataan lengkap, jika
memaksakan pulang ke Mataram sudah pasti ancaman sang raja menjadi
kenyataan.
Akhirnya merea memutuskan untuk menetap di hutan belantara
agar tidak terdeteksi oleh tentara Belanda. Lambat laun mereka membabak
hutan.
Pasukan-pasukan Mataram akhirnya memutuskan untuk tidak
kembali ke Mataram untuk selamanya, mereka hidup di hutan itu dengan
menyimpan rasa takutnya.
Komunitas pasukan Mataram lambat laun
melahirkan generasi-generasi baru mereka dari hasil pernikahan silang
dengan di penduduk di luar hutan. Oleh karena polulasi mereka bertambah
maka pemukiman tersebut menjadi kampung.
Para pasukan Mataram
memiliki dasar keilmuan yang lumayan tinggi terutama ilmu agama Islam.
Mereka ikut menyebarkan agama Islam. Pemeluk Islam pertama kali di
daerah ini adalah Mbah Buyut Bungsu yang kelak bernama Mbah Buyut Sawala
1). Mbah Buyut kelak menjadi tokoh agama yang sangat disegani,
menyebarkan ajaran Islam dengan basisnya di Cipaku, yang kini merupakan
komplek makam kramat Buyut Sawala.
Masjid pertama dalam sejaran Islam
di daerah ini adalah Masjid Darussalam. Di masjid ini terdapat
benda-benda sejarah berupa alat-alat perang pada saat tentara/pasukan
mataram bertempur melawan kompeni (V.O.C.), antara lain keris dan
tombak.
Benda-benda ini menjadi benda pusaka yang tidak sembarang
orang bisa melihatnya, ada waktu-waktu tertentu untuk bisa melihat benda
pusaka ini. Misalnya pada saat bulan Mulud dalam tahun Islam.
Di
Masjid Darussalam juga terdapat kuris kesaksian. Setiap orang yang
sedang dalam perkara, pada jaman dulu selalu digiring duduk untuk
memberikan sumpah di atas kursi kesaksian tersebut. Jika berbohong maka
pantatnya tidak akan bisa lepas dari kursi. Menyatu dengan kursi seperti
dilem dengan bahan perekat kuat. Jika keterangannya benar, maka ia bisa
berdiri dan beranjak seperti biasa.
Nama Desa Karangsambung juga
memiliki keterikatan dengan Masjid Darussalam. Masjid ini dibangun
dengan elemen batu karang, termasuk material penyangga mesjid.
Komponen
tiangnya dibuat dari potongan batu karang, dihubungkan dengan cara
menyambung batu karang hingga membentuk tiang. Metode penyambungannya
tidak terungkap dengan jelas.
Proses penyambungan batu karang
tersebut membuat warga desa itu berpecak kagum hingga tersiar ke
beberapa desa lainnya. Istilah karangsambung pun lahir, menandai desa
dengan masjidnya yang khas.
Ex pasukan-pasukan Mataram yang dikenal
memiliki wawasan tinggi "melahirkan" keturunannya yang cerdas. Mereka
mampu menguasai daerah Liangjulang, Jatiraga, Pagandon, dan Babakan
Simon.
Keturunan Mataram yang paling berpengaruh adalah Demang Karangsambung, nama aslinya tidak ada dalam catatan sejarah Kadipaten.
Demang Karangsambung tampil sebagai penguasa tunggal, ia melakukan ekspansi kekuasan ke daerah Dawuan, Jatiwangi dan Palasah.
Kebijakan-kebijakan
politik pada saat itu bergantung pada sang demang. Maka yang terjadi
adalah sistem pemerintahan demang tampak otoriter, kekuasaannya lebih
mirip dengan kekuasaan raja. Hal itu tampak dari pola hidup masyarakat
Kademangan Karangsambung yang harus membayarkan upeti kepada demang.
Upeti
itu bisa berupa hasil pertanian seperti padi, palawija dan
barang-barang lainnya. Upeti tersebut langsung dibayarkan oleh
masyarakat tanpa melalui perantara, mereka berbondong-bondong
menyerahkan hasil pertaniannya untuk kepentingan demang.
Akan tetapi
pembayaran upeti kepada demang tidak menimbulkan antipati. Sebaliknya
figur demang menjadi tokoh panutan, dihormati dan dianggap sebagai tokoh
yang bertindak sebagai penguasa negeri.
Setelah kademangan
Karangsambung mengalami regenerasi kepemimpinan, timbul pergolakan yang
dipicu oleh perebutan wilayah. Karangsambung dihadapkan pada perlawanan
Bantarjati yang berkuasa atas wilayah Kertajati, Jatitujuh dan Cibenda.
Diriwayatkan
antara Bantarjati dan Karangsambung terjadi class fisik. Akan tetapi
tidak disebutkan pihak mana yang memenangkan perang dua kubu tersebut.
Pada
abad 18, Karangsambung tetap menjadi pusat permukiman penduduk.
Kegiatan bisnis dan perdagangan sehari-hari berlangsung di Pasanggrahan.
Sebelum jalan Anyer - Panarukan dibangun, pelabuhan sungai di
Pasanggrahan merupakan terminal lalu lintas yang paling utama.
Masa
kejayaan kota Pasanggrahan (sekarang : Babakan Anyar) berlangsung
setelah dibangunnya pabrik gula Kadhipaten tahun 1868 oleh Pemerintah
Kolonial Belanda. Arus barang diangkut dengan gotrok atau darengsin.
Gotrok adalah sejenis lori.
Gula yang sudah dikemas lalu diangkut
dari pabrik gula di Omas-Liangjulang menyebrang jalan Kadipaten -
Majalengka melalui book (Buk) rel. Jalur rel Lori ada 3 arah. Rel ke-1
ke arah pelabuhan pasanggrahan menyebrang sungai Cilutung ke perbatasan
Sumedang, jalur ke-2 melalui perempatan lampu merah ke arah timur menuju
pabrik gula Jatiwangi.
Jalur ke-2 melintasi kawasan Cipaku menyisir
pinggiran jalan raya Kadipaten, Dawuan, dan Jatiwangi, dan jalur ke-3
tembus ke pabrik gula Jatitujuh.
Karangsambung pernah menjadi tonggak
sejarah manakala H. Agus Salim, H.O.S. Cokroaminoto, Katosuwiryo, H.
Mansyur dan Mualim Badjuri sempat merasakan tinggal sementara di
Karangsambung. Mereka adalah tokoh nasional pada zamannya. Hal ini
berdasar pada keterangan Kuwu Hanim yang mengetahui sebagian data
sejarah Karangsambung.
Saat ini Karangsambung hanya terdiri atas
tujuh blok atau kampung, yaitu Blok Ahad, Blok Senen, Blok Jum'ah, Blok
Saptu, Kampung Dukuh Bitung, Dukuh warung Barat, dan Leuweung Bata.
Penduduk
Desa Karangsambung berjumlah 7.960 jiwa. Sebagian besar berada di
Dukuhwarung Barat dan Dukuhbitung. Dukuhwarung Barat dan Dukuhbitung
terbelah sungai irigasi Cihaliwung.
Tokoh-tokoh Karangsambung dari
awal revolusi fisik adalah Rewah, Wahab, Sabur, Tirta, Jamil, Dawuh,
Olik, Dadang, Tonton, Narga dan Bayong.
Tokoh Karangsambung terakhir
adalah Kuwu Hanim yang merupakan ayah penulis terkenal Hikmat Gumelar.
Kuwu Hanim adalah satu dari tiga kuwu Majalengka terbaik di bidang
ketaatan Pajak Bumi dan Bangunan, besan dari Letjend. (Purn) Makmun
Rasyid ini mendapatkan kehormatan memenuhi undangan Gubernur Jawa Barat
untuk hadir dalam sebuah acara di Bandung.